Pernah ada seorang pemuda
begitu rajin merawat dan melayani seorang lelaki tua yang tengah terbaring
sakit. Lelaki tua itu tidak lain adalah mertuanya. Sang mertua sudah belasan
tahun menderita sakit. Usianya menginjak tujuh puluhan. Berbagai penyakit,
katarak, reumatik, hernia, infamasi prostat, dan seabrek penyakit lainnya sudah
lama diidap lelaki tua itu. Sudah 2 kali operasi. Si menantu sendiri terlihat
sehat dan kuat. Usianya masih sangat muda. Untuk merawat mertua, ia bahkan
ditolong oleh kakak lelakinya yang juga bertubuh sehat, juara karate pula.
Keduanya seolah-olah sekadar menanti kematian lelaki tua itu.
Tetapi ajal adalah rahasia
ilahi. Bukan orang itu yang meninggal, justru menantunya yang sangat muda dan
segar bugar, terlebih dahulu dijemput maut. Selang beberapa bulan, ganti
kakaknya si jago karate menyusul ke liang lahat. Keduanya meningal dunia karena
penyakit di bagian perut yang selama ini dianggap biasa saja. Niat hendak
merawat si tua hingga wafat, justru ia yang terlebih dahulu dirawat jenazahnya
ke pekuburan masal.
Kisah ini benar-benar nyata.
Realita yang serupa dengan itu pun ternyata amat banyak. Logika awal yang
menggambarkan seorang anak menangisi kepergian ibunya yang sudah tua renta,
sama nyatanya dengan logika seorang ibu melepaskan kepergian anaknya yang jauh
lebih muda. Itu bukan soal hukum pasti, tapi soal takdir yang tidak bisa
diganggu gugat. Akhirnya, soal tua, muda, besar, kecil, kuat atau lemah menjadi
bukan untuk rumusan untuk mengukur usia manusia.
“sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin
Allah, sebagai ketetapan yang telah diatur waktunya.” (Ali Imran : 145)
Sekarang kita menengok
realita lain. Ada kalanya kita sulit membuat definisi, saat hal yang
didefinisikan sendiri masih sangat controversial. Kata “Muda” bisa disebut
sebuah kata yang mengandung sekian kontoversial.
Pertama, seorang yang berusia 70
tahun tetap saja disebut lebih muda jika disandingkan dengan orang berusia 80
tahun. Kedua, soal muda, amat berkaitan dengan jatah usia yang
diberikan Allah ta’ala. Kalau seseorang memiliki jatah usia 25 tahun, maka usia
24 tahun baginya merupakan usia yang sudah tua. Karena usia yang tersisa hanya
seperduapuluhempat dari usianya yang telah dijalaninya. Orang yang berusia 40
tahun, bisa disebut muda kalau jatah usianya 90 tahun. Ketiga,
soal muda juga terkait dengan kondisi tubuh. Adalah memalukan untuk mengaku
muda, kalau stamina tubuh, kebugaran, kesegaran kulit, rambut dan tulang serta
kesehatan tubuhnya lebih mengenaskan daripada orang berusia 80 tahun. Ada orang
yang usianya sudah kepala delapan, tak ubahnya anak berusia belasan tahun. Keempat,
soal muda dan tua juga menjadi relatif bila dilihat dari sudut pengalaman
hidupnya. Kelima, muda dan tua juga bisa dinilai dari
kemampuan menikmati hidup dan kelezatan duniawi. Keenam, muda
dan tua juga bisa ditakar dari status social, sudah berkeluarga atau belum,
berapa jumlah anak dan cucunya atau bahkan cicitnya. Ada wanita berumur 27
tahun sudah bercucu. Tapi ada juga yyang sudah berusia 80 tahun, jangankan
cucu, satupun belum ada anaknya yang sudah menikah. Ketujuh,
mungkin setiap zaman dan tempat, standar tua dan muda juga bisa berbeda-beda. Ada satu lingkungan di
satu masa tertentu, rata-rata usia kematian diatas sembilan puluh. Ada lagi habitat lain,
dimana usia kematiannya rata-rata hanya enam puluh tahun. Perbedaan usia
kematian, tantu saja berpengaruh besar pada takaran soal muda dan tua
Kembali ke soal usia muda.
Kita semua tahu, betapa naïf anggapan bahwa muda berarti jauh dari maut.
Anggapan itu sering diartikan kesempatan untuk berbuat semaunya, bekerja
semaunya, makan, tidur, istirahat semaunya, bermaksiat semaunya, melakukan
segala sesuatu seenak dan sebisanya. Ketika Allah mengharamkan maksiat, soal
usia muda tidak pernah menjadi alasan untuk berudzur. Karena justru di usia
itu, sebagian besar potensi kemanusiaannya mengendap. Di usia itu juga,
seharusnya sorang muslim lebih berupaya keras menahan gejolak nefsunya. Karena kegagalan atau keberhasilannya disaat
itu, akan menetukan kualitasnya di masa depan. Dalam ungkapam Arab
dituturkan, “kondisi terbaik di
masa muda adalah mengekang nafsu saat sedang liar-liarnya.”
Tak terbilang jumlah
orang-orang yang menyesal di masa tua, kerena demikian miskin sesungguhnya di
masa mudanya. Rasa sesal itu kerap muncul menjadi sebuah petuah “Mumpung masih
muda, kamu harus banyak belajar, jangan seperti saya dulu”. “Saat muda seperti
sekarang mestinya kamu bersungguh-sungguh. Kalau sudah tua kayak saya ini, apalah
yang bisa kamu lakukan nanti?”.
Ungkapan penyesalan itulah
yang justru amat berguna buat dirinya, dan juga buat orang-orang yang dia beri
petuah. Ungkapan rasa sesal itu akan membuka tabir realita bahwa amatlah bodoh
membiarkan masa muda berlalu dalam ketidakpastian, atau bahkan dalam kubangan
dosa dan maksiat.
“Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeming di hari
kiamat nanti, sebelum ia dimintai pertanggungjawaban atas 4 hal : atas masa
mudanya, untuk apa saja dihabiskan, atas usianya, untuk apa saja digunakan,
atas harta bendanya, dari mana saja dicari dan kemana saja dibelanjakan, lalu
ilmunya, untuk apa saja diamalkan.” (HR.Ath-Thabrani dalam
Al-Mu’ajamul Ausath)
Masa muda adalah bagian dari
usia manusia. Lebih dari itu Allah juga meminta pertanggungjawaban atas
masamuda secara khusus. Itu menunjukan, betapa masa muda memiliki catatan
tersendiri dalam hidup seseorang. Masa muda menjadi titik tolak eksistensi
kemanusiaan dan kehambaan di masa depan.
Orang tua merenungi nasib
dan kenangan hidupnya sudah pasti wajar. Namun seorang anak muda yang masih
berdarah panas, saat nafsunya sedang bergolak di puncaknya, lalu ia melakukan
perenungan terhadap kehidupannya, pengabdian apa yang sudah dia persembahkan
kepada Allah, dan berapa banyak sudah maksiat yang digelutinya, sungguh sebuah
keistimewaan. Sungguh kita sangat wajib memiliki keistimewaan itu. Karena
diluar keistimewaan itu hanya kehinaan belaka.
Sudah saatnya kita lebih
memahami betapa hebatnya rahasia takdir, dan betapa dahsyatnya rahasia ajal.
Semua pengalaman dan realita seharusnya mengajarkan bagi kita, bahwa tidak
boleh bermain-main dengan ikhtiar. Kita harus sangat menyadari bahwa akhir
hidup, tak peduli di usia muda atau tua, menentukan tampat kembali di akhirat
kelak. Bila itu dipahami dengan baik, akan jadi pelajaran yang amat berharga.
(Artikel Saya rangkum dari buku “Dalam Selimut Kabut Maksiat” penerbit
Rumah Dzikir oleh Ust. Abu Umar Basyir)
Semoga bermanfaat !



0 komentar:
Post a Comment