Pages

Wednesday, December 12, 2012

Tips Mempercepat Star up Windows XP



sebetulnya banyak cara untuk mempercepat startup windows, berikut salah satu caranya :

1.     Klik Start, Run
2.     Ketikkan : msconfig
3.     Akan muncul Windows “System configuration Utility” dengan beberapa Tab yaitu: General, SYSTEM.INI, WIN.INI, BOOT.INI, Services, Startup dan Tools
4.     Buang Centang pada aplikasi/ service yang tidak diinginkan, misalnya ingin mendisable Indexing Service –> Klik Tab Service, kemudian pada baris Indexing Service centang dibuang.
5.     Beberapa service yang dapat anda disable misalnya
1.     Alerter
2.     Application Management
3.     Clipbook
4.     Fast UserSwitching
5.     Help and Support
6.     Human Interface Devices
7.     Indexing Service
8.     Net Logon
9.     NetMeeting
10.                        QOS RSVP
11.                        Remote Desktop Help Session Manager
12.                        Remote Registry
13.                        Routing & Remote Access
14.                        SSDP Discovery Service
15.                        Web Client
6.     PERHATIAN!!: Web Client hati-hati dalam membuang centang, karena banyak service yang memang dibutuhkan oleh Windows agar tetap berjalan.
7.     Setelah selesai, klik OK dan lakukan Restart
8.     Setelah restart selesai, pada layar akan muncul Warning bahwa anda telah menggunakan utility msconfig, beri Centang agar pada saat restart Windows berikutnya tidak muncul Warning ini.
9.     Bagaimana kalau terjadi kesalahan? Tidak perlu panik, panggil msconfig lagi dan klik “Launch System Restore” untuk merestore Windows ke kondisi sebelum kita mengubahnya
sekian Tips Mempercepat Star up Windows XP  dan semoga bermanfaat yah :)

semoga bermanfaat

Apa sih bedanya Laptop, Notebook sama Netbook?



Tidak jarang orang yang sering bergelut dengan computer masih suka ngerasa bingung ketika ada yang bertanya “apa sih bedanya Laptop, NoteBook sama Netbook?”
Hayooohh… bingung perbedaan diantara ketiga itu dimana? Yuk kita bahas satu-satu.
Laptop sebenarnya kata lain dari notebook, notebook yang disimpan di pangkuan (lap) atas (top). Perbedaan istilah notebook dan laptop lebih diakibatkan oleh pergeseran makna yang notabene berpengaruh pada penempatan posisi pemakai komputer itu sendiri, Jadi tidak ada bedanya antara laptop dengan notebook.



Spesifikasi hardware
1.     Laptop/Notebook, biasanya menggunakan prosesor yang lebih kuat seperti, Pentium Dual-core, Core2 Duo, Turion X2 dengan RAM yang sama atau lebih besar dari netbook. Notebook juga dapat menggunakan discrete graphic dari Ati Radeon atau Nvidia GeForce. Memiliki ukuran 10-17 inchi dan berat 2kg keatas. Disertai dengan CD-ROM.
2.     Netbook, Biasanya menggunakan prosesor Intel Atom, VIA C7 yang hemat energi, dibekali RAM 512 MB – 1 GB untuk mendukung performanya. Netbookjuga biasanya sudah dibekali peralatan untuk berinternet dengan nyaman dengan menyertakan wi-fi dan bluetooth bahkan akhir-akhir ini ada produsen yang menyertakan modem 3G dan 3,5G (HSDPA), tak lupa webcam pun hadir di sebagian besar netbook yang beredar. Memiliki ukuran yang “hanya” 8-10 inchian dan berat yang hanya 1kg-an. Biasanya tidak disertai dengan CD-ROM.
Daya tahan baterai
1.     Laptop/Notebook, pada umumnya hanya mampu hidup dengan baterai selama 1-3 jam saja.
2.     Netbook, mampu bertahan lama antara 3-5 jam. Ini dikarenakan hardware yang digunakan netbook lebih hemat energi dibanding notebook.
Input dan Output device
1.     Laptop/Notebook, Kita bisa menemukan optical drive dan slot usb.
2.     Netbook, rata-rata hanya terdapat slot usb. Hal ini karena netbook memang didesain seringkas mungkin dan lebih content consumption.
Performa
1.     Laptop/Notebook, dapat digunakan untuk berbagai jenis keperluan, dari mulai pengetikan, edit gambar, nonton video sampai main game (lebih komplit).
2.     Netbook, memiliki performa dibawah Laptop/Notebook, yang biasanya digunakan untuk hal-hal ringan saja seperti ngenet, chatting dan nonton video.
Harga
1.     Laptop/Notebook, memiliki kisaran harga dari 4,8 juta dengan spesifikasi hardware yang lumayan sampai dengan belasan juta rupiah.
2.     Netbook, memiliki kisaran harga dari 3,3 juta. Tentunya lebih murah ketimbang Laptop/Notebook

 

Saturday, December 8, 2012

Belajar Dari Elang



Sahabat, dalam mengarungi kehidupan ini, adakalanya kita dihadapkan pada badai kehidupan. Ada hal yang dapat kita ambil pelajaran dari seekor elang.

IMAN, ISLAM DAN IHSAN




Iman, Islam, dan Ihsan adalah risalah atau syariat Islam.

Iman, Islam, dan Ihsan adalah pokok-pokok ajaran Islam.

Iman Islam Ihsan disebut juga Aqidah Ibadah Akhlak.

Iman adalah kepercayaan atau keyakinan. Islam adalah pelaksanaan atau pembuktian keyakinan. Ihsan adalah etika dalam keyakinan dan pengamalannya.

Pelaku Iman disebut Mukmin. Pelaksana Islam disebut Muslim. Pengamal Ihsan disebut Muhsin.

Pengertian Iman, Islam, dan Ihsan disebutkan langsung Rosûlullôh ﷺ dalam sebuah hadits shahih. Dari Umar bin Khoththob رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ Ia berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ

“Dahulu kami pernah berada di sisi Rosûlullôh ﷺ, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan. Tidak seorang pun dari kami mengenalnya, hingga dia mendatangi Nabi ﷺ lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi ﷺ, kemudian ia berkata: ‘Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam ?’ Rosûlullôh ﷺ menjawab: “Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allôh dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan puasa Ramadlan, serta haji ke Baitulloh jika kamu mampu bepergian kepadanya”. Dia berkata: ‘Kamu benar’. Umar berkata: Maka kami kaget terhadapnya karena dia menanyakannya dan membenarkannya. Dia bertanya lagi: ‘Kabarkanlah kepadaku tentang Iman itu ?’ Beliau ﷺ menjawab: “Kamu beriman kepada Allôh, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rosûl-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk”. Dia berkata: ‘Kamu benar’. Dia bertanya: ‘Kabarkanlah kepadaku tentang Ihsan itu ?’ Beliau Shollallôhu ‘alaihi wasallam menjawab: “Kamu menyembah Allôh seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Dia bertanya lagi: ‘Kapankah hari akhir itu ?’ Beliau menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya”. Dia bertanya: ‘Lalu kabarkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya ?’ Beliau menjawab: “Apabila seorang budak melahirkan (anak) tuan-nya, dan kamu melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin, penggembala kambing, namun bermegah-megahan dalam membangun bangunan”. Kemudian dia bertolak pergi. Maka aku tetap saja heran kemudian Beliau berkata: “Wahai Umar, apakah kamu tahu siapa penanya tersebut ?” Aku menjawab: Allôh dan Rosûl-Nya lebih tahu’. Beliau bersabda: “Itulah Jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang pengetahuan agama”.

[Riwayat Muslim Hadits Arba’in No. 2. Hadis ini diriwayatlan juga oleh Bukhari, Abu Dawud, at-Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad bin Hambal].

Pengertian Iman

Dalam hadits di atas, Rosûlullôh ﷺ mengemukakan Rukun Iman Arkanul Iman yakni percaya kepada Allôh Subhanahu wa ta'ala para malaikat, kitab-kitab, para Rosûl, hari kiamat, dan takdir.

Kata iman berasal dari bahasa Arab, yaitu amana-yu'minu yang artinya percaya atau menerima.

Menurut istilah, Iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan memperbuat dengan anggota badan (beramal). (Tashdiqun bil qolbi ikrarun bil lisan wa 'amalun bil arkan). Orang beriman disebut Mukmin.

Pengertian Islam

Islam secara bahasa artinya berserah diri dan damai. Islam adalah agama Allôh Subhanahu wa ta'ala.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allôh hanyalah Islam” (Ali Imran: 19)

Kata Islam berasal dari bahasa Arab yaitu aslama yang artinya patuh, pasrah, menyerah diri, atau selamat.

Pemeluk Islam atau orang yang tunduk dan patuh berserah diri kepada Allôh disebut Muslim.

Pengertian Ihsan

Ihsan berasal dari bahasa Arab yaitu ahsan (yuhsinu), ihsanan yang artinya kebaikan atau berbuat baik.

Menurut istilah, ihsan ialah berbakti dan mengabdikan diri kepada Allôh Subhanahu wa ta'ala atas dasar kesadaran dan keikhlasan. Pelakunya disebut Muhsin.

Ihsan atau kebaikan tertinggi adalah seperti disabdakan Rosûlullôh ﷺ,

قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِحْسَانِ. قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

‘Kabarkanlah kepadaku tentang Ihsan itu ?’ Beliau ﷺ menjawab: “Kamu menyembah Allôh seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. [HR. Bukhari]

Selain dalam hal ibadah kepada Allôh Subhanahu wa ta'ala ihsan juga bermakna akhlak atau perilaku baik kepada sesama sebagai pengamalan Iman dan Islam. Rosûlullôh ﷺ bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بالله وَاليَومِ الآخرِ ، فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باللهِ وَاليَومِ الآخِرِ ، فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باللهِ وَاليَومِ الآخِرِ ، فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَسْكُتْ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ)

“Barangsiapa yang beriman kepada Allôh dan kepada hari akhir, hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya, barangisiapa yang beriman kepada Allôh dan kepada hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya, barangsiapa yang beriman kepada Allôh dan kepada hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.” [Muttafaq ‘alaihi]


Masuk Surga Dan Neraka Karena Seekor Lalat


Jauh-jauh hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan kepada umatnya untuk menjauhi segala hal yang dapat menjerumuskannya kepada kesyirikan. Hal ini dikarenakan kesyirikan merupakan salah satu perbuatan yang sangat dibenci dan dimurkai Allah. Karenanya diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir secara marfu’, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ

“Barang siapa bertemu Allah dalam keadaan tidak syirik sedikitpun kepada-Nya, maka dia masuk surga. Dan barang siapa bertemu Allah dalam keadaaan syirik kepada-Nya, maka ia masuk ke neraka”.

Dalam kesempatan lain Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menuturkan kepadaku empat kalimat;

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَهُ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الْأَرْضِ

“Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat orang yang menyembelih binatang dengan berniat bukan lillah (karena Allah), dan  Allah melaknat orang yang melindungi pelaku kejahatan, serta Allah melaknat orang yang mengubah tanda batas tanah” [HR. Imam Ahmad]

Salah satu peringatan keras yang diingatkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits ini ialah laknat Allah kepada orang yang menyembelih binatang dengan niat bukan karena-Nya. Sehingga jika seseorang menyembelih karena selain Allah dan untuk bertaqarub kepadanya, maka haram hukumnya. Meskipun ia menyebut nama Allah pada saat penyembelihannya itu.

Imam An-Nawawi berkata, “Ini adalah perbuatan haram, dan tidak dihalalkan untuk melakukannya (menyembelihnya), entah pelakunya seorang muslim, nasrani atau yahudi. Sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Imam Syafi’i, dan disepakati oleh ulama madzhab kami. Sehingga jika dimaksudkan sebagai bentuk pengagungan dan peribadahan kepada selain Allah, maka ia telah kafir. Dan jika sebelumnya ia seorang muslim maka hal itu mengantarkannya kepada kemurtadan”

Lantas bagaimana jika mempersembahkan hewan kurban yang bukan sembelihan kepada selain-Nya ?

Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa sallam telah mengisahkan kepada kita tentang seorang yang masuk surga lantaran seekor lalat, dalam hadits yang masyhur. Diriwayatkan dari Thariq bin Syihab, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda;

دَخَلَ الجَنَّة رَجُلٌ فِى ذُبَابٍ , وَدَخَلَ النّارَ رَجُلٌ فِى ذُبَابٍ .قالُوْا : وَكَيْفَ ذَالِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قالَ :  مَرَّ رَجُلاَََََََنِ عَلَى قَوْمٍ لَهُمْ صَنَمٌ لاَ يُجَا ِوزُهُ  أحَدٌ حَتَّى يُقََََََرِّبَ لَهُ شَيْئًا . فَقََالُوْا لِأحَََََدِهِمَا : قَرِّبْ ! . قَالَ : مَا عِنْدِى شَيْئٌ قَالُوْا : قَرِّبْ وَلَوْ   ذُبَا بًا . فَقََرَّبَ ذُبَا بًا فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُ , فَدَخَلَ النَّارَ . وَقَالُوْا لِلاََخَرِ : قَرِّبْ ! . قَالَ : مَا كُنْتُ لِأَقْرَبَ لِأحَدِ شَيْئًا دُوْنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ . فَضَرَبُوْا عُنُقَهُ , فَدَخَلَ الْجَنََّةَ

“Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat, dan ada seseorang yang masuk neraka karena seekor lalat pula.” Maka para sahabat bertanya, “Bagaimana hal itu, ya Rasulullah ?”. Beliau menjawab, “Ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala, yang mana tidak seorang pun (boleh) melewati berhala itu sebelum mempersembahkan kepadanya suatu kurban. Ketika itu berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut, “Persembahkanlah kurban kepadanya ?”. Ia menjawab; “Aku tidak mempunyai Sesuatu yang dapat kupersembahkan kepadanya”. Mereka pun berkata kepadanya lagi, “Persembahkanlah kepadanya walaupun hanya seekor lalat”. Lalu orang tersebut mempersembahkan seekor lalat dan mereka pun memperkenankan untuk meneruskan perjalanannya. Maka ia masuk neraka karenanya. Kemudian berkatalah mereka kepada seorang yang lain, “Persembahkanlah kurban kepadanya ?” Dia menjawab, “Aku tidak patut untuk mempersembahkan sesuatu kurban kepada selain Allah”. Kemudian mereka memenggal lehernya. Karenanya ia masuk surga".

Firman Allah Ta’ala;

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)

"Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Penguasa semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama berserah diri (kepada-Nya).”
(Al-An’am: 162-163)

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

"Maka dirikanlah shalat untuk Tuhanmu dan sembelihlah kurban (untuk-Nya).” (Al-Kautsar: 2)

Hikmah yang terkandung dari hadits ini ialah :

1). Tafsiran ayat dalam surah Al-An’am. Ayat ini menunjukkan bahwa penyembelihan binatang untuk selain Allah adalah syirik, sebagaimana shalat selain Allah.

2). Tafsiran ayat dalam surah Al-Kautsar. Ayat ini menunjukkan bahwa shalat dan penyembelihan adalah ibadah yang harus diniati untuk Allah semata-mata, dan penyelewengan niat ini dengan ditujukan untuk selain Allah adalah syirik.

3). Dalam hadits tersebut diatas, pertama kali yang dilaknat adalah orang yang menyembelih binatang dengan niat bukan Lillah.

4). Dilaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya; dan diantaranya adalah dengan melaknat bapak ibu orang lain, lalu orang lain ini melaknat bapak ibu orang tersebut.

5). Dilaknat orang yang melindungi seorang pelaku kejahatan yaitu orang yang memberikan perlindungan kepada seseorang yang melakukan tindak kejahatan yang wajib diterapkan kepadanya hukum Allah.

6). Dilaknat pula orang yang merubah tanda batas tanah, yaitu mengubah tanda yang membedakan antara hak milik seseorang dengan hak milik tetangganya dengan digeser maju atau mundur.

7). Peringatan akan bahaya syirik walaupun dalam masalah kecil. Dan syirik itu memastikan pelakunya masuk ke neraka. Sebagaimana hadits dari sahabat Jabir di atas.

8). Menumbuhkan sikap wara’ terhadap segala hal yang memungkinkan untuk terjatuh dalam perbuatan syirik merupakan suatu keharusan bagi seorang muslim betul-betul tunduk dan patuh kepada Allah dan rasul-Nya.

Karena terkadang seseorang terjatuh ke dalam kesyirikan lantaran ia tidak mengetahui bahwa apa yang telah ia perbuat merupakan perbuatan kesyirikan yang memastikan ia masuk ke dalam neraka. Diriwayatkan dari sahabat Nu’man bin Basyir bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam telah bersabda;

إِِنَّ الْحَلاَ لَ بَيِّنٌ وَ إِنَّ الْحَرَامَ بَيِِّنٌ وَ بَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَا تٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌمِنَ الْنَّا سِ فَمَنِِ اتَّقَى الشُّبْهَاتَ فَقَدْ  اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبْهَاتِ وَقَعَ فِى الْحََرَامِ

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang samar-samar (syubhat) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barang siapa menghindari perkara-perkara yang syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam perkara tersebut, maka ia telah terjerumus dalam perkara yang haram…"

9). Meremehkan segala hal yang telah ditetapkan di dalam Al Quran dan Sunnah,  merupakan suatu perbuatan yang sangat dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla dan rasul-Nya. Lebih-lebih hal itu masuk dalam hal yang bersifat ushuli.

Dan akibat yang didapatkan dari sikap seperti ini ialah terjerumusnya seseorang ke dalam neraka Allah Azza wa Jalla. Hal ini dapat kita lihat, bahwa orang yang disebutkan dalam hadits di atas sebelumnya adalah seorang muslim yang meremehkan terhadap permasalahan yang dihadapinya. Jika seandainya ia bukan seorang muslim, tentunya Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa sallam tidak akan bersabda, “Masuk neraka karena seekor lalat…”.

Anas bin Malik Radhiallahu’anhu berkata; “Sesungguhnya (suatu saat nanti) kalian akan beramal dengan amalan yang kalian anggap lebih kecil (remeh) dari pada sehelai rambut. Dan kami menganggap pada masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam, hal itu merupakan bagian dari hal-hal yang dapat membinasakan seseorang”

10). Orang tersebut masuk neraka dengan sebab ia melakukannya karena ingin bebas dari kejahatan pemuja berhala. Dan ini ia lakukan tanpa adanya pengingkaran dalam hatinya. Berbeda dengan sahabat Ammar bin Yasir yang dipaksa oleh kaum kafir Quraisy untuk mengatakan bahwa Latta, Uzza dan Manat adalah tuhan yang patut disembah. Walaupun ia terpaksa mengatakannya, akan tetapi ia tetap mengingkari dalam hatinya. Sebagaimana firman Allah;

 مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapatkan kemurkaan Allah Azza wa Jalla, kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar” (An-Nahl: 106)

11). Perkataan, “aku tidak patut untuk mempersembahkan kurban selain kepada Allah”, ini menerangkan keutamaan tauhid, keikhlasan dan ketabahan hatinya dalam memurnikan keimanannya pada Allah Azza wa Jalla, serta keuletannya dalam memegang agama. Yaitu ketabahannya dalam menghadapi eksekusi (hukuman mati) dan penolakannya dalam memenuhi permintaan mereka. Karena tanpa adanya keikhlasan hati dalam memurnikan ketauhidan dan keimanannya pada Allah Azza wa Jalla niscaya ia tidak akan mampu seperti  firman Allah Azza wa Jalla:

وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيَْنَ حَنَفََاءُ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus...

Imam Ath Thabari rahimahullah mengatakan; kalimat, “mukhlisina lahud diin”, mempunyai dua makna, yaitu ketaatan sepenuhnya kepada-Nya dan tidak mencampurinya dengan suatu kesyirikan.

Sehingga singkat kata, kesimpulan yang dapat kita ambil dari hadits tersebut ialah bahwa haram mempersembahkan kurban kepada selain-Nya dengan cara bagaimanapun. Wallahua’lam


Abu Barra'

Referensi :

-- Taisir Al-Aziz Al-Hamid fi Syarh Kitabut Tauhid, Sulaiman bin Abdillah bin Abdul  Wahhab/Al Maktab Al Islamy, Beirut Cet. Ke-6, 1985 M

-- Syarh Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi/Yahya bin Syaraf An-Nawawi Ad Dimsyaqi/Al Maktabah Asy Syamilah

-- Jami’ul Bayan ‘An Ta’wili Ayil Quran/Abu Ja’far Ath-Thabary/Dar Al Fikr/Beirut-Lebanon/Cet. Ke-1/2001 M