Dalam
Al Qur'an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak mengenali
atau tidak menaruh kepedulian akan ayat atau tanda-tanda kebesaran dan
kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya. Sebaliknya, ciri menonjol pada
orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda dan bukti-bukti
kekuasaan sang Pencipta tersebut. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan
tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kekuasaan dan kesempurnaan ciptaan Allah
di segala penjuru manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan
diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan yang berakal,
yaitu
"…orang-orang yang mengingat Allah sambil
berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): " Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci
Di
banyak ayat dalam Al Qur'an, pernyataan seperti, "Maka mengapa kamu tidak
mengambil
pelajaran?", "terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang
berakal,"
memberikan
penegasan tentang pentingnya memikirkan secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan
Allah. Allah telah menciptakan beragam ciptaan yang tak terhitung jumlahnya
untuk direnungkan. Segala sesuatu yang kita saksikan dan rasakan di langit, di
bumi dan segala sesuatu di antara keduanya adalah perwujudan dari kesempurnaan
penciptaan oleh Allah, dan oleh karenanya menjadi bahan yang patut untuk
direnungkan. Satu ayat berikut memberikan contoh akan nikmat Allah ini:
"Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu
tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
memikirkan."
(QS. An-Nahl, 16:11)
Marilah
kita berpikir sejenak tentang satu saja dari beberapa ciptaan Allah yang
disebutkan dalam
ayat di atas, yakni kurma. Sebagaimana diketahui, pohon kurma tumbuh dari sebutir
biji di dalam tanah. Berawal dari biji mungil ini, yang berukuran kurang dari
satu sentimeter kubik, muncul sebuah pohon besar berukuran panjang 4-5 meter
dengan berat ratusan kilogram. Satu-satunya sumber bahan baku yang dapat
digunakan oleh biji ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon
besar ini adalah tanah tempat biji tersebut berada.
Bagaimanakah
sebutir biji mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia dapat
berpikir untuk menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah yang diperlukan
untuk pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat memperkirakan bentuk dan struktur
yang diperlukan dalam membentuk pohon? Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah
penting, sebab pohon yang pada akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah
sekedar kayu gelondongan. Ia adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki
akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang
mengangkut zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna.
Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekedar menggambar
sebatang pohon.
Sebaliknya
sebutir biji yang tampak sederhana ini mampu membuat wujud yang sungguh sangat
kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah.
Pengkajian ini
menyimpulkan bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan pintar,
bahkan lebih
jenius daripada kita. Atau untuk lebih tepatnya, terdapat kecerdasan
mengagumkan
dalam apa yang dilakukan oleh biji. Namun, apakah sumber kecerdasan
tersebut?
Mungkinkah sebutir biji memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa?
Tak diragukan
lagi, pertanyaan ini memiliki satu jawaban: biji tersebut telah diciptakan
oleh Dzat yang
memiliki kemampuan membuat sebatang pohon. Dengan kata lain biji tersebut telah
diprogram sejak awal keberadaannya. Semua biji-bijian di muka bumi ini ada
dalam pengetahuan Allah dan tumbuh berkembang karena Ilmu-Nya yang tak
terbatas. Dalam sebuah ayat disebutkan:
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang
ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa
yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan
Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi
dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkah tertulis dalam kitab
yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS. Al- An'aam, 6:59).
Dialah
Allah yang menciptakan biji-bijian dan menumbuhkannya sebagai tumbuh-tumbuhan baru.
Dalam ayat lain Allah menyatakan:
Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan
dan biji buah-buahan.
Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan
mengeluarkan yang mati dari
yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian
ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (QS. Al-An'aam, 6:95)
Biji
hanyalah satu dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan-Nya di
alam semesta. Ketika manusia mulai berpikir tidak hanya menggunakan akal, akan
tetapi juga dengan hati mereka, dan kemudian bertanya pada diri mereka sendiri
pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana", maka mereka akan
sampai pada pemahaman bahwa seluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan
dan kekuasaan Allah SWT
Seomga bermanafaat………!
Sumber : Harun Yahya



0 komentar:
Post a Comment